Buaian Intrik “Plesir” Dewan di Tengah Pandemi, Pengalihan Isu Proyek RS Corona?

  • Whatsapp
Iksanudin
Iksanudin
jadwal-sholat

BENGKULU SELATAN | TheBlusukan.com Masa jingkrak-jingkrak aktor intelektual kunjungan kerja (Kunker) 14 anggota DPRD Kabupaten Bengkulu Selatan disinyalir bakal segera berakhir, seiring segenap pengamat politik dan antikorupsi merapatkan barisan hingga menemukan kepingan-kepingan indikasi skenario busuk.

Salah satunya adalah pegiat antikorupsi Iksanudin. Dia mengendus adanya skenario busuk menjebak para anggota dewan tersebut terkait ambisi membangun Rumah Sakit (RS) khusus pasien terinfeksi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) yang sebelumnya menuai respon pro-kontra.

Read More

banner 970180

“Pekan lalu, segenap media mainstream memuat cibir dan hujat kepada 14 anggota DPRD yang nekad Kunker ke wilayah Sumatera Selatan tanpa menghiraukan pembatasan sosial menangkal pandemi Covid-19. Tapi saya curiga, mereka hanya tumbal intrik segelintir oknum di legislatif dan eksekutif,” ungkapnya kepada TheBlusukan.com, Selasa (5/5/2020) malam.

Menurut Iksan, publik bisa menilai bersama, kabar Kunker itu tiba-tiba muncul saat rombongan telah terlanjur berangkat tanpa upaya pencegahan sejak awal. Kemudian seolah sengaja dibesar-besarkan oknum pejabat teras di daerah ini yang terlihat begitu dramatis, puitis dan melankolis melalui jejaring sosial.

“Padahal, kalau kita kembalikan lagi pada kewajiban dan wewenangnya dalam Gugus Tugas Penanggulangan Covid-19 di Bengkulu Selatan, itu sama saja meludahi kening sendiri. Sebab seluruh jalur keluar-masuk kabupaten ini di bawah pengawasan oknum pejabat itu,” sindir Cicit Pangeran Mukmin ini.

Iksan menguraikan, momen kepergian 14 legislator tumbal ini memakan waktu empat hari, ditambah masa karantina mandiri 14 hari, maka tersedia banyak waktu untuk “main mata” antara eksekutif dan legislatif memuluskan realisasi proyek RS Corona.

“Kalau pun waktu 18 hari itu kurang untuk negosiasi, toh pamor 14 orang itu sudah terlanjur rusak di mata masyarakat. Sehingga keluarnya mereka dari karantina bakal ‘digoreng’ lagi dengan bumbu stigma penyebar virus corona di tengah masyarakat, dan dengan sangat mudah perhatian publik beralih ke situ lagi. Ini yang harus diwaspadai, intrik kotor ini,” tukasnya.

Terkait RS Corona yang digadang-gadang teranggarkan Rp 31,6 miliar, Iksan menilai sebagai ide tidak produktif dan bisa mencelakai rakyat sendiri, aspek manfaatnya tidak berpihak pada fase preventif.

“Pemkab Bengkulu Selatan sepertinya ingin dilihat tanggap, gagah, perkasa dengan membangun rumah sakit itu. Sementara upaya pencegahan diabaikan. Sudah terbukti terabaikan, distribusi bantuan pangan saja ceckcok. Masyarakat mulai dililit kesusahan dan sejauh ini belum butuh rumah sakit. Itu fakta, kita bisa cek sama-sama di lapangan,” tantangnya.

Iksan melihat, RS Corona lebih banyak boroskan anggaran dan menyiratkan harapan banyak masyarakat daerah ini terinfeksi corona, kemudian dirawat di RS mahal itu untuk membuktikan aspek manfaatnya. Bahkan kalau perlu 14 anggota DPRD itu dulu yang menikmati layanan medisnya.

“Sudahlah, musibah ini cukup dijadikan bahan introspeksi, otak proyek tidak laku dalam penanggulangan pandemi. Apakah tidak sekalian RS itu dilengkapi lahan luas untuk monumen Covid-19 dan kuburan massal untuk kita-kita ini? Supaya anak-cucu kita nanti tahu betapa bodohnya kita menghadapi corona,” sasarnya.

Oposan yang pernah beberapa kali mengirim koruptor ke balik jeruji prodeo ini mengingatkan, Pemkab masih memiliki sederetan aset daerah yang kurang termanfaatkan, di antaranya GOR dan sebuah hotel di Pasar Bawah.

“Itu bisa direnovasi sedimikian rupa untuk RS Corona. Tak perlu proyek sensasional yang hambur-hamburkan duit rakyat. Ingat, itu duit rakyat, jangan main-main. Fee proyek itu tak seberapa dibanding resikonya,” pungkasnya.

Hingga berita ini ditayangkan, pihak-pihak berkompeten terkait dugaan adanya aktor intelektual dimaksud tengah dijajaki dan diupayakan segera terkonfirmasi.[#Covidiot]

banner 970180

Related posts

banner 970180