Ironi di Balik Tawa Renyah Reskan-Gundul

  • Whatsapp
Gusnan Mulyadi bersama Reskan Effendi Awaludin
Gusnan Mulyadi bersama Reskan Effendi Awaludin.
jadwal-sholat

SEBUAH foto langka beredar di sejumlah grup perpesanan instan whatsapp memantik beragam persepsi terkait konstelasi politik jelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) di Kabupaten Bengkulu Selatan, Provinsi Bengkulu.

Beredar luas sejak Sabtu (29/2/2020) malam, foto tersebut memamerkan dua tokoh sentral Bumi Sekundang Setungguan, yakni Bupati Gusnan Mulyadi dan mantan bupati periode 2010-2015 Reskan Effendi Awaludin yang tengah berjabatan tangan diselingi senda-gurau.

Read More

banner 970180

Sesi salam komando yang dipertontonkan keduanya di depan kamera sekilas lebih mirip posisi adu panco, dibarengi ayunan hook kiri Reskan ke arah wajah Gundul, sapaan akrab Gusnan Mulyadi.

Latar foto menunjukkan momen ini diabadikan dalam sebuah resepsi pernikahan, meski waktu dan tempat persisnya belum terkonfirmasi.

Pesan politis yang ingin disampaikan melalui foto ini, diduga dialamatkan ke sejumlah Bakal Calon (Balon) Bupati Bengkulu Selatan yang tengah mengeroyok petahana.

Hingga Minggu (1/3) siang, setidaknya sudah empat rival politik Reskan dan Gundul menyampaikan pendapatnya kepada TheBlusukan.com secara terpisah. Walau tidak bicara eksplisit, keempat politisi ini mendefinisikan foto itu adalah ironi bagi mereka.

Tanpa menghiraukan posisi tangan kiri Reskan —belum tentu benar-benar mengarah ke Gundul— pengamatan mereka lebih terfokus pada momen kebersamaan yang terkesan akrab natural.

Bagi mereka, Gundul adalah petahana yang akan maju dalam Pilkada Bengkulu Selatan dengan mengantongi sederetan nama kandidat pasangan, di antaranya politisi Partai Golkar Dodi Martian, kontraktor tersohor Yeyen AJM dan owner Debadas Foodcourt Rio Ari Wibowo.

Sementara Reskan sendiri dikabarkan akan mengikhlaskan putra sulungnya, Rio Ari Wibowo berpasangan dengan Gundul kalau niat dirinya turut menjadi kompetitor Gundul tetap terganjal pemberlakuan kembali Putusan MK nomor 4/PUU-VII/2009. Tapi, sejauh ini sikap politik Reskan lebih terkesan gampang goyah oleh bisik-bisik cenayang.

“Kalau Pak Bowo (Reskan-red) jadi nyalon, maka keduanya (bersama Gundul-red) akan selesai. Karena Pak Bowo bukan tandingan Gundul, suara pun akan terpecah. Berikutnya, kemenangan Pak Bowo akan dibatalkan MK. Nah, ini yang terlihat malah menyatu mereka ini,” ungkap salah satu sumber.

Menyinggung maksud “bukan tandingan”, mantan birokrat ini memandang nilai jual Reskan tidak bisa diragukan di kalangan grassroot hingga pemerintahan. Bahkan, beberapa Balon Gubernur Bengkulu pernah mengajaknya berpasangan melawan Petahana —pasangan duet Reskan saat menjadi bupati— Rohidin Mersyah dalam Pemilihan Gubernur (Pilgub) tahun ini.

Sementara Gundul, menurut pensiunan ASN ini, mengantongi jam blusukan belum seberapa di tengah masyarakat, bahkan belum genap dua tahun menjadi orang nomor satu sejak menggantikan posisi Bupati Dirwan Mahmud yang terjaring operasi tangkap tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) 2018 silam.

Itu sebabnya, Reskan lebih pantas dijadikan guru, bukan lawan bagi Gundul. Merapatnya kedua kubu superpower ini, mengutip pendapat filsuf kenamaan asal Bikini Bottom di dasar Samudera Pasifik, Mister Spongebob Squarepants, bisa diibaratkan “ironi di atas ironi” bagi para rival politik mereka.

Sudahkah Reskan dan Gundul mafhum, bahwa dalam nukilan sejarah Bengkulu Selatan belum pernah ada petahana mampu menahan gempuran politik Pilkada karena kurang mahir dalam manajemen egosentris? [*/catatan redaksi]

banner 970180

Related posts

banner 970180