Kalau Duet Gundul-Rif Langgeng, Kandidat Lain Tak Perlu Ikut Pilkada

  • Whatsapp
Rifa'i Tajudin mulai ekspansi ke desa-desa melalui ratusan mini-poster.
Rifa'i Tajudin mulai ekspansi ke desa-desa melalui ratusan mini-poster.
jadwal-sholat

BENGKULU SELATAN | TheBlusukan.com Duet Gusnan Mulyadi dengan Rifa’i Tajudin dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kabupaten Bengkulu Selatan hampir terwujud nyata. Para pengamat menilai, kedigdayaan koalisi mesin politik kedua petahana ini membuat kesan Pilkada di daerah ini nyaris tidak diperlukan.

Selain dapat meminimalisir jumlah pasangan calon (Paslon) akibat merapatnya beberapa partai politik besar —latar belakang kedua figur— dalam satu koalisi adikuasa, kehadiran Rif juga diyakini mampu merangkul kembali dukungan konstituen kawasan perkotaan yang sejak lama diracuni sindrom Asal Bukan Gundul (ABG), sekaligus menjadi pelipur ‘kebencian’ mayoritas pejabat Aparatur Sipil Negara (ASN) terhadap Gusnan Mulyadi.

Read More

banner 970180

“Gundul (sapaan Gusnan Mulyadi-red) itu nilai jualnya hancur-hancuran di perkotaan, mungkin pengaruh desas-desus barisan sakit hati (oknum pejabat yang tak puas dimutasi-red) waktu dia jadi pemimpin tunggal (sebelum Rif dilantik sebagai wakil bupati-red). Rif masuk, situasi jadi dingin,” ungkap salah satu bekas calon Wakil Bupati Bengkulu Selatan —dalam Pilkada sebelumnya— kepada Netizen62.net (grup TheBlusukan.com), Sabtu (14/3/2020) sore.

Menurut dia, sebelum nama Rif mengemuka, harapan kemenangan Gundul hanya di kawasan pedesaan. Sementara di tubuh pemerintahan sendiri, elektabilitas Gundul memburuk. Diduga, itu pula sebabnya, Gundul lebih suka blusukan ke desa-desa dibanding berlama-lama di kantor.

Lebih jauh pria ini mencontohkan, bertahun-tahun Gundul seolah membiarkan saja singgasananya dicabik-cabik manuver di internal birokrasi yang berafiliasi kental dengan salah satu calon penantangnya nanti. Namun kini, Rif diyakini akan mampu menyatukan kembali ‘perpecahan’ itu.

“Kalau dua orang itu benar-benar berpasangan, yang lain pikir-pikir lah. Sungguh (kompetisi-red) tidak seimbang,” imbuhnya.

Saat kekuatan petahana terbangun kembali, politisi ini melihat potensi surutnya langkah para penantang. Rika Yohan misalnya, dari jalur keluarga dekat saja sudah menggambarkan kelemahan, yakni tampilnya Nurmansyah Samid sebagai bakal calon (Balon) wakil bupati mendampingi Aliman Siana.

Balon lainnya, Hartawan dan Budiman Ismaun, sama-sama masih jadi ‘perenang bebas’ karena belum pasti kebagian perahu. Budiman kelihatan mulai ‘mengerem langkah’ merapat ke Partai Golkar, sementara Hartawan —pernah santer disebut empunya suara Kedurang— masih dihantui kekhawatiran terhantam isu primordial di tikungan terakhir.

Bagaimana Reskan Effendi Awaludin dan putra sulungnya, Rio Ari Wibowo? “Masih abu-abu, sulit ditebak. Tapi sepertinya (baru dugaan-red) ikut merekomendasikan Rif di posisi sekarang,” pungkasnya.

 

Relawan Gundul Bubar?

Hampir satu triwulan bergerak senyap, membuat kesan Tim Relawan Gundul —mesin sosio-politik petahana di kalangan grassroot— terkesan telah membubarkan diri secara diam-diam.

Ternyata, tim yang dimotori sejumlah pengusaha mass-media padat karya organik Bengkulu Selatan ini tengah menggelar survey dan pendampingan intensif di seluruh simpul suara.

Sejatinya, tim ini lebih berorientasi pada penyuksesan program aksi pemerintahan periode pertama, agar mampu mempertahankan kredibilitas Gundul menuju periode kedua. Dalam ranah politik praktis Pilkada Bengkulu Selatan, sejauh ini Relawan Gundul justru masih menahan diri, berperan sebagai ‘pembisik kasar’ dari luar arena.

“Sekarang mulai pemetaan untuk 2024. Sebab, Insya Allah kemenangan di 2020 sudah dalam genggaman. Kita serahkan saja ke ahlinya masing-masing, di gelanggang politik praktis sudah ramai, Relawan Gundul lebih bahagia di lapangan. Bukan hal aneh, pola pergerakan tentu beda dengan pengkaderan,” cetus salah satu fungsionaris relawan, Sabtu (14/3) malam.[ren]

banner 970180

Related posts

banner 970180