Korupsi di E-Warong, Jalan Pintas Menuju Regu Tembak

  • Whatsapp
Koruptor dihukum mati
Ancaman hukuman mati bagi koruptor di masa pandemi Covid-19. [ilustrasi]
jadwal-sholat

BENGKULU SELATAN | TheBlusukan.com Oknum berwenang di Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Bengkulu Selatan, Provinsi Bengkulu, dikabarkan memaksa salah satu pengelola warung elektronik gotong royong (e-warong) membayar Rp 600/kg beras yang akan disalurkan kepada penerima manfaat.

Karena tidak dituruti, e-warong tersebut mendapatkan sanksi pengurangan kuota penerima manfaat, dari lebih 200 menjadi hanya 80 penerima. Sisanya dialihkan ke e-warong lain yang bersedia memenuhi pungutan liar (pungli) tersebut.

Read More

banner 970180

Kepala Dinsos melalui Neli selaku kepala seksi membidangi e-warong tersebut, saat dikonfirmasi Netizen62.net (grup TheBlusukan.com) Kamis (9/4), menyatakan sejauh ini penyaluran Bansos melalui e-warong sudah berdasarkan aturan berlaku. Namun dia tidak menanggapi gamblang pengakuan pihak e-warong yang merasa terzhalimi tersebut.

Penelusuran awal tim investigasi Ronin98 (grup TheBlusukan.com) menemukan beberapa e-warong lain juga diperlakukan sama, kalau tidak bersedia membayar fee beras.

Baca Juga: KPK Ingatkan Ancaman Hukuman Mati bagi Koruptor di Masa Pandemi Covid-19

Pungli adalah bagian dari tindak pidana korupsi, kalau pungli di e-warong ini benar-benar terbukti terjadi di masa pemerintah dan seluruh rakyat indonesia berperang melawan pandemi Covid-19, maka pelaku tidak hanya dijerat Undang Undang Nomor 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dan/atau Pasal 368 KUHP, tapi bisa terancama hukuman mati.

Baca Juga: Ada Pungli di E-Warong, Ini Klarifikasi Singkat Dinsos

Saat berita ini dipublish, upaya mengonfirmasi ulang Kepala Dinsos melelui telepon tengah diupayakan, sembari melanjutkan investigasi dan pengumpulan bukti otentik di seluruh e-warong.[lim]

banner 970180

Related posts

banner 970180